Tags

, , , , , ,

Assalammualaikum sahabat.

Semoga selalu dalam keberkahan dan semangat menyelesaikan tugas kita di dunia ini, yaitu memberikan manfaat kepada orang lain. Ini adalah tulisan keduaku di blog ku yang masih sangat sederhana ini, namun insya Alloh ini menjadi mediaku dalam membagi pengalaman dan sedikit manfaat bagi minimal diriku sendiri dan insya Alloh orang yang membacanya. Aku ingin menuliskan banyak hal tentang mozaik-mozaik mimpi yang kemudian terejawantahkan menjadi mozaik kehidupan yang nyata, atas izin Tuhanku yang Maha Tinggi, Yang memiliki Arsy yang agung, dan tak pernah lelah memberikan kasih sayang dan rahmat-Nya kepada kita. Awalnya aku ingin menulis blog ini dengan bahasa inggris, karena selain melatih writing, tulisannya juga akan bisa dipahami pembaca selain yang memahami bahasa Indonesia, namun akhirnya kutulis dalam bahasa Indonesia.

Sahabat, aku awali cerita ini dengan sedikit review tentang kota kelahiranku, Klaten.

Ndeso, kurang populer, dan hanya kota satelit kecil yang diapit dua kota budaya yang amat terkenal di Indonesia, yaitu Jogja dan Solo. Kota ini menyimpan potensi demografi yang cukup menjanjikan sebenarnya. Indeks Pembangunan Manusia kota ini menyentuh angka hampir 75, dan statistik melek huruf mencapai 90%. Klaten menjadi kampung halaman dimana dilahirkan beberapa orang besar yang turut mempengaruhi sejarah negeri ini. Siapa saja mereka?

  1.  Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, SpBS, Ph.D. (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 27 Juli 1958; umur 58 tahun) adalah seorang dokter dan guru besar dengan spesialisasi bidang bedah syaraf (neurosurgeon). Ia merupakan dokter pertama yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia dan namanya juga tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien. [wikipedia].
  2. Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng.,Ph.D. (lahir di Klaten, 13 Maret 1947; umur 69 tahun) adalah mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2007-2012.
  3. Prof. Dr. Ir. Suhardi, S.S., M.Sc. (lahir di Klaten, 13 Agustus 1952 – meninggal di Jakarta Selatan, 28 Agustus 2014 pada umur 62 tahun)adalah seorang intelektual, akademisi, politikus dan praktisi kehutanan Indonesia. Ia mendapatkan gelar master dan doktor di bidang fisiologi pohon dari University of the Philippines Los Baños (UPLB). Sebelum berkecimpung kedalam dunia politik, Ia merupakan Guru Besar dari Universitas Gadjah Mada, dan pernah menjadi dekan di Universitas yang sama. Serta juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan dan Perkebunan (kini Kementerian Kehutanan).
  4. Hendarman Supandji (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 6 Januari 1947; umur 69 tahun) adalah Jaksa Agung Indonesia sejak 9 Mei 2007 hingga 24 September 2010.
  5. Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A. (lahir di Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, 8 April 1960; umur 56 tahun) adalah seorang dosen, politikus dan legislator Indonesia. Ia merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang ke-11, menjabat dari Oktober 2004 hingga Oktober 2009.
  6. Ir. Hartarto Sastrosoenarto (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 30 Mei 1932; umur 84 tahun) adalah Menteri Perindustrian pada Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) dan Kabinet Pembangunan V (1988-1993) dan Menteri Koordinator bidang Produksi dan Distribusi (Menko Prodis) pada Kabinet Pembangunan VI (1993-1998) dan Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menko Wasbangpan) pada Kabinet Pembangunan VII (1998-1999).
  7. Prof. Daniel M. Rosyid PhD, M.RINA (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 2 Juli 1961; umur 55 tahun) adalah seorang Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
  8. Rachmat Djoko Pradopo (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 3 November 1939; umur 77 tahun) adalah sastrawan Indonesia.
  9. Drs. Hadi Prabowo, M.M. atau yang dikenal dengan inisial HP (lahir di Klaten, Jawa Tengah, 3 April 1960; umur 56 tahun) Gubernur Kalimantan Tengah.
  10. Ki Nartosabdo, lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun) adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan belum tergantikan sampai saat ini.
  11. Darmono, Jaksa Agung tersingkat mungkin, di era SBY, 2010.
  12. Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. (lahir di Klaten, 28 Agustus 1951; umur 65 tahun) atau biasa disebut kak seto, seorang pakar pendidikan anak.

Tokoh-tokoh diatas[source: wikipedia] menunjukkan bahwa SDM kota kecil ini mampu bersaing dan seharusnya bisa mengambil peran-peran penting dalam membangun bangsa. Oh, anda tau Renata Kusmanto yang cantik dan bikin lier itu?itu orang klaten juga.hee…

Klaten adalah lumbung pangan negeri ini, kalaulah tidak bisa dibilang skala nasional, mungkin skala pulau Jawa. Siapa yang tidak mengenal beras delanggu yang terkenal itu. Bahkan  saya bisa menemukan beras ini di bakola(toko serba ada) Saudi Arabia. Jika anda sedang jalan-jalan di sekitar Delanggu, anda akan jumpai sawah yang amat luas membentang, dan biasanya ditanami padi pada musim-musim yang cocok. Yah, meskipun mungkin areanya semakin menyusut dari tahun ke tahun.

permandangan-sawah-padi

wanmutiara.files.wordpress.com

Namun saya turut prihatin dengan kondisi Klaten saat ini. Dalam beberapa dekade terakhir, kota ini dikuasai oleh dinasti tertentu seperti yang terjadi di Banten. Sebenarnya jika dinasti itu memiliki credibility dan integrity yang bagus tidak masalah, justru saya yakin masyarakat akan mendukung, namun, yah..saya kira hampir semua orang Klaten paham, what kind of people they are…Saya sendiri bertanya-tanya, dimanakah orang-orang terbaik kota ini yang lahir pada generasi akhir 70-80an? Kota ini layak mendapatkan sesuatu yang lebih dari sisi kepemimpinan. Anda bisa lihat data statistik Kota Klaten dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, nothing special. Seolah-olah kota ini hanya berjalan seperti autopilot, sosok pemimpin antara ada dan tidak ada. Ini pendapat pribadi saya sih, namun silahkan lakukan riset kecil-kecilan berdasar survey lapangan dan data statistik jika anda tertarik, terutama jika anda seorang asli Klaten.

Jika potensi pertanian ini diurus secara serius, political will yang terkondisikan demi kemaslahatan rakyat Klaten, berkolaborasi riset dan pengembangan bersama Universitas yang unggul dalam bidang pertanian, saya yakin, ini akan menjadi ledakan produktifitas petani lokal Klaten. Belum lagi potensi budidaya ikan air tawar di daerah Cokro. Limpahan air disana, benar-benar sebuah potensi dahsyat yang bisa dikembangkan dengan sangat mudah jika ada political will dari sosok pemimpin ideal.

cokro7

Terkadang, entah karena keterbatasan pengetahuan dalam perencanaan pembangunan, ataukah ikatan-ikatan politik oportunis dan hipokrit yang sering melanda pemimpin daerah di negeri ini, yang sering gagal fokus. Mereka gagal memahami dan menemukan potensi asli daerah mereka, dan cenderung mengikuti trend. Sebagai contoh, akhir-akhir ini muncul demam para pemimpin daerah yang hobi membangun taman-taman dan patung-patung, monumen-monumen simbolis di lokasi-lokasi tertentu daerah mereka. Saya melihat ini hanyalah gejala trend saja. Seorang walikota inovatif disalah satu daerah negeri ini seorang arsitek yang paham benar sejarah kotanya yang disamakan dengan salah satu kota arsitektur legendaris di Eropa. Dia mengenali ini sebagai potensi daerahnya, dan kreatifitas warganya yang memang banyak bergerak diindustri kreatif, maka sudah pas jika roadmap pembangunan yang dia canangkan semacam itu. Kemudian Bali, pulau yang lumayan indah, dan memiliki potensi wisata yang memang menjadi jati diri daerah mereka, maka sungguh tepat jika arah pembangunannya diarahkan ke lokasi wisata, patung-patung yang spektakuler, lokasi-lokasi wisata yang menarik, dll. Yang menjadi menggelikan, daerah lain ikut-ikutan trend pembangunan ini dengan tanpa mempertimbangkan akar budaya, potensi, dan jati diri masyarakat daerahnya. Kenapa tiba-tiba rame-rame membangun taman-taman, patung-patung, dan lokasi wisata yang agak dipaksakan. Ini sangat disayangkan, karena potensi asli yang sesungguhnya bisa mendatangkan profit lebih banyak bagi masyarakat justru hilang.

Bangsa ini harus memiliki roadmap yang spesifik bagi setiap daerahnya. Apakah semua wilayah negeri ini hanya akan dijadikan tempat wisata yang akan melayani turis-turis kaya dari Eropah, US, dll? Potensi daerah harus dipacu untuk menjadi motor penggerak ekonomi dengan memiliki sektor produktif yang sesuai dengan identitasnya. Banyak sekali yang bisa dikembangkan. Uang ratusan milyar yang digunakan untuk membangun Masjid yang akhirnya hanya menjadi tempat wisata dan tidak terurus, dan cuma menjadi legacy kosong bagi pembangunnya, lebih bijak jika digunakan untuk membangun sektor-sektor produktif yang sesuai dan mendukung potensi asli daerah terkait.

Klaten jelas menjadi bukti korban dari trend legacy kosong pemimpin-pemimpin daerah yang kurang memiliki jiwa pemimpin yang progresif dan inovatif. Sudah saatnya anak muda Klaten memikirkan masa depan kota kelahirannya. Menggali lagi jati diri daerahnya, nenek moyangnya, akar-akar potensi budaya pendahulu mereka, mempelajari kegagalan mereka dan bersatu padu secara sinergis dengan berbagai elemen masyarakat, baik dari kalangan pegiat pertanian, perikanan, budayawan, ekonom, akademisi, insinyur, ilmuwan, dan yang paling penting kesadaran dan kedewasaan politik para elit-elit lokal yang seharusnya meninggalkan pola-pola pikir lama yang tidak produktif dan cenderung degeneratif.

Klaten adalah kota kelahiran bagi ribuan potensi muda yang sangat menentukan masa depan kota kecil ini. Mari kita bali ndeso mbangun deso…sejauh apapun kita mengembara ke berbagai belahan dunia, tetaplah disitulah tanah dimana darah pengorbanan ibu yang melahirkan kita tertumpah.

Salam udara…

Dhahran, 16 November 2015

Advertisements