Tags

, , , ,

Salam udara…!

Newbie menulis ini sebenarnya tidak direncakan. Karena tadi sore kebanyakan minum kopi, jadilah mata ini melolo hingga tengah malam setelah menyelesaikan sebagian draft jurnal paper newbie yang kedua. Newbie kemudian memikirkan suatu hal yang jadi pertanyaan sejak bulan kemarin. Kenapa beberapa Professor hiperaktif di kampus tempat newbie ngemis ilmu jadi banyak banting stir ke penelitian di bidang renewable energi? Padahal selama ini, yang jadi primadona topik penelitian adalah yang bau-bau minyak dan geo-geo. Wah, ini kabar buruk, bisa jadi pengangguran ini ahli-ahli minyak di masa depan nanti. Tenang…, cadangan minyak negeri onta masih aman hingga hampir seratus tahun.

Kemudian newbie berselancar ke beberapa website local Saudi, ada apa ini negeri onta yang kata salah seorang saudara saya yang konon jenius, lulusan UNS, Solo, adalah negeri katrok yang orangnya bodoh dan masih naik onta. Dikutip dari zawya.com, ternyata Kingdom memiliki program spektakuler terkait renewable energi ini. Pemerintah Saudi berambisi menggelontorkan dana pengembangan renewable energy hingga mencapai 50 Milyar USD. Dasar negeri onta gendeng…

Menurut newbie, ini menarik,… mengingat negeri yang memiliki cadangan minyak proven sebesar 270an Milyar Barel (sumber OPEC per 2016) begitu niat dan berambisi mengembangkan renewable energi. Pemerintah berkomitmen untuk memanfaatkan energi terbarukan secara masif dan terencana dalam National Transformation Plan dan Saudi Vision 2030. Ambisi kerajaan tak main-main, untuk negara yang bisa dikatakan masih nol pengalaman yang field proven di renewable energi. Target sebesar hampir 3.5 Giga Watt bakalan dikejar hingga 2020 dan melonjak higga 9.5 Giga Watt hingga 2023. Damn…, ini agak gila dan terkesan ambisius. Saudi Aramco ditugaskan menjadi pemeran kunci dalam memuluskan ambisi ini, melalui Program Energi Terbarukan Nasional yang dideploy dari Kementrian Energi Saudi.

Perkembangan terbaru, sebuah turbin raksasa buatan GE di pasang di daerah Turaif, dengan kapasitas terpasang 2.75 MW, yang didesain khusus untuk memenuhi segala macam aspek kebutuhan desain untuk lingkungan padang pasir yang ekstrem. Proyek yang di kerjakan oleh Aramco ini memiliki tinggi struktur mencapai 85 m dengan diameter blade turbin hingga 120 m. Ini besar bro… Terlepas dari cocok tidaknya kondisi karakteristik angin di daerah Turaif dengan desain turbin ini, setidaknya Saudi menunjukkan bahwa, “cong, cuk, le, mbel gembel, dab, gw ga main-main soal beginian, lo jual gua beli….!!!”

Menurut pandangan cupu newbie, ini adalah langkah yang sangat menguntungkan bagi Saudi di masa depan. Pemerintah negeri onta ini paham benar, bahwa Eropa sudah melakukan pengembangan gila-gilaan soal renewable energi sejak puluhan tahun yang lalu, sehingga diperlukan program yang massive dan terencana dengan baik untuk mengejar ketertinggalan. Eropa itu negara miskin sumber daya, jadi wajar kalau mau survive mereka harus peras otak dan melakukan apapun untuk bertahan hidup.

Sekarang saatnya newbie menilik lagi kondisi ketahanan energi di negeri yang konon, Surga itu pernah bocor, lalu netes ke bumi, dan jadilah negeri kepulauan nan indah itu. Iki negoroku cuk, koen ojok ngece…

Kita lihat energi outlook negara kece ini dalam report terbarunya…

…………………………………….

…………………………………….

Newbie harus potong, soalnya menjelang defense. Jadi belum sempat baca menyeluruh energy outlook yang dikeluarkan berbagai instansi seperti dewan energi nasional atau LIPI atau lembaga lain, termasuk RUPTL bakule listrik dan instasi lain dibawah kementrian ESDM. Insya Alloh setelah defense, kita lanjut kupasan secara komprehensif, negeri surga kita mau ngapain di beberapa puluh tahun kedepan.

Tetap sehat, tetap waras, dan jangan mikirin sego dan duit terus.

Salam olahraga

Dhahran, 20 April 2017

Advertisements