Tags

, , , ,

mech

Salam udara...

Kemaren kamis sempat diskusi sebentar dengan pak bos, kenapa Doktor alumni US lebih diutamakan disini daripada alumni Asia or Eropa. Jawabnya jelas masalah kualitas pendidikannya. Intinya beliau menjelaskan, di US, PhD by courses, research dan ada comprehensif exam yang sakit banget katanya. Hal ini membuat jebolan US sangat matang dalam fundamental theory, teaching, dan research baik modeling maupun experimental.

Ketika disini, sy baru sekali diajar oleh orang alumni eropa, dia dari UK, sy lupa, imperial college or manchester. Dan benar, cara mengajarnya boring dan ga mudah dicerna. Dosen-dosen alumni US kalau ngajar benar2 enak kek nonton wayang, mudengke, jero tenan ilmune semacam dia hafal textbook berbagai judul dan kalau bikin soal ujian, kek ditabrak kereta sakitnya.

Pernah dulu, ada quiz, 1 soal, sampe waktu habis ga ada satupun mahasiswa sekelas yang bisa ngerjain itu soal. Lalu dibawa take home test. Saya dan kawan-kawan sekelas coba diskusi untuk mecahin soal itu mpe hampir 3 hari, ga bisa juga. Jambuuuu…iki soal opo…

Akhirnya saya kumpulkan kertas jawabnya hanya berisi initial derivation dan asumsi2nya. diakhit halaman saya berikan tulisan kira2 begini.

"I am sorry Doctor, .......give up..."

Dan benar, ga ada satupun yang bisa ngerjain itu. Beliau cm senyum-senyum, katanya itu test, apakah ada mahasiswa luar biasa di kelasnya, dan ternyata ga ada…wkwkwkwk…

Dulu, waktu mata kuliah S1 banyak mata kuliah yang saya ga sreg dengan model mengajar dan pemilihan textbook-nya, karena keterbatan otak saya yang cuma diasupi sego sayur 2-3rebuan dua kali sehari sama air putih. Tapi saya ga nyerah gitu aja, dan mencari tau buku apa yang paling enak dipakai memahami materi itu yang sesuai dengan kelemotan otak saya. Waktu itu saya ga punya PC apalagi laptop. Make PC di lab orang aja diusir katanya bukan anggota lab. Akhirnya, saya pergi ke perpus pusat untuk berburu buku teks yang barangkali bisa memberikan pencerahan.

Contoh mata kuliah mekanika bahan. pertama kali saya ambil, saya dapat nilai D. Saya ga mau bahas siapa pengajar nya, tapi buku yang dipakai adalah “Strength of Material” by Popov kalau ga salah. Ketika itu, saya benar-benar ga paham mata kuliah itu. Tahun depannya ketika mata kuliah itu diambil lagi, saya membaca disebuah forum di internet bahwa buku karangan Timoshenko lebih seger, saya cari buku itu perpus pusat dan ada 2 jilid. Waktu jam kuliah, saya cm tinggal baca sendiri, ga saya dengerin dosennya, karena masih sama cara ngajarnya yang saya ga cocok, jadi belajar mandiri dengan buku itu. Alhamdulillah, ketika mid semester nilai-nya hampir sempurna, dan diakhir semester pas ujian akhir saya keluar ruangan paling cepat dan diganjar dosen dengan nilai A.

Ini cerita saya tulis bukan buat sok-sokan, namun hanya sebagai contoh, bahwa nilai jelek karena sulit memahami mata kuliah yang anda ambil bukan berarti anda bodoh. Bahkan kemaren ada berita kalau ada anak mengirimkan surat menyerah ga bisa mikir lagi terkait mata kuliah ini. Intinya, anda sebagai mahasiswa hanya memerlukan media, suasana dan sarana yang pas agar anda berhasil dalam memahami setiap mata kuliah, dengan syarat, anda niat untuk berhasil.

Dan masih banyak mata kuliah lain yang bikin saya emosi dan hampir putus asa karena ga paham, terutama bidang mechanics. Karena menurut saya jaman S1, mata kuliah-mata kuliah bdang fluid dan energy lebih mudah dibanding mechanics. Mungkin karena itu saya melanjutkan S2 dibidang mechanics, dan dibidang yang saya pernah dapat nilai D dijaman S1, yaitu terkait solid mechanics.

Ketika S2, ada mata kuliah yang sangat susah, yaitu Continuum Mechanics dan Advanced Dynamics. Mata kuliah itu adalah core course (wajib) di bidang Mechanics. Ketika saya baca textbook nya, astaga, ga ngerti sama sekali saya. Namun, ternyata dosen alias Prof pengajarnya adalah orang yang sangat cerdas dan pandai mengajar. Dalam dua mata kuliah ini, saya benar-benar terpukau dengan dosennya. Mata kuliah sesulit ini, bahkan setelah saya cari-cari semua buku emang sama susahnya, karena bukan buku level undergraduate lg, bisa disampaikan dengan menjadi terang benderang oleh dosennya. Keduanya sama-sama lulusan US, dan pernah mendapatkan best teaching di KFUPM berkali-kali. Akhirnya saya jatuh hati pada Professor yang ngajar advanced dynamics, dan kemudian menjadi advisor master thesis saya.

Sekian dulu kawan, itu cuma sekelumit berbagi cerita mengenai dunia kuliah di bidang Mechanical Engineering.

 

B.831, R.215

King Fahd University of Petroleum and Minerals

Dhahran, KSA

 

14 Ramadhan 1439 H

 

 

 

Advertisements